Meramu Tradisi Upacara Nyangku di Panjalu




Oleh DHIPA GALUH PURBA

HARI ini, Senin 4 Februari 2013, di Panjalu, Ciamis, digelar Upacara Nyangku.  Inilah salahsatu kebudayaan yang membumi di Desa/ Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Digelar secara konsisten setiap tahun dan melibatkan masyarakat Panjalu. Tradisi nyangku selalu menarik perhatian masyarakat luas. Terlebih bagi warga Panjalu yang berdomisili di Panjalu maupun yang merantau di kota-kota besar.

Bagi warga Panjalu, nyangku sudah menjadi hari besar yang biasanya tidak dilewatkan begitu saja. Selain hari raya Iedul Fitri, acara nyangku pun menjadi momen tepat para perantau untuk pulang kampung. Tentu, masyarakat yang lebih luas pun segera merespon kegiatan ini. Ribuan masyarakat selalu membanjiri kota kecamatan Panjalu setiap kali digelar upacara tradisi nyangku.

Biasanya, seminggu menjelang digelarnya upacara nyangku, suasana Panjalu terasa semarak. Ratusan umbul-umbul berjejer rapih sepanjang jalan yang melintasi pusat kota. Demikian pula dengan Alun-alun Panjalu yang telah ditata untuk pelaksanaan Upacara Ritual Nyangku.

Kegiatan ini berlangsung setiap bulan Mulud, pada hari Senin atau Kamis di minggu terakhir. Nyangku merupakan syukuran warga Panjalu dalam memperingati pertama kalinya Prabu Boros Ngora syi’ar Islam di tanah Panjalu. Oleh karena itu, nyangku menjadi agenda penting yang telah turun-temurun melestarikan kegiatan yang telah menjadi citra budaya Ciamis di tingkat nasional.

      Menurut sesepuh Panjalu, RH Atong Cakradinata, kata ”nyangku” berasal dari kata “yanko” (bahasa Arab), yang artinya membersihkan. Prosesi ritual Nyangku secara lahiriah adalah membersihkan dan merawat benda-benda pusaka peninggalan raja-raja Panjalu yang disimpan di Bumi Alit, terutama pusaka peninggalan Prabu Boros Ngora. Sedangkan secara batiniah, nyangku adalah cermin untuk merevitalisasi kembali prilaku hidup yang berpedoman kepada amar ma’ruf nahyi munkar.

Menurut pengakuannya, Atong Tjakradinata adalah turunan ke-14 Prabu Borosngora. Garis keluarga secara singkatnya yaitu: Prabu Boros Ngora - Prabu Hariang Kancana (makamnya di Nusa Gedé) – Prabu Hariang Kuluk Kunang Téko (makamnya di Cilanglung) – Prabu Hariang Kanjut Kadali Kancana (makamnya di Sareupeun) - Prabu Hariang Kada Cayut Martabaya (makamyna di Hujungwinangun) – Sembah Dalem Aria Sacanata – Sembah Dalem Wira Dipa (makamnya di Maparah) – Sembah Dalem Cakranagara I (makamnya di Cinagara) - Sembah Dalem Cakranagara II (makamnya di Puspaligar) - Sembah Dalem Cakranagara III (makamnya di Nusagedé) – Demang RH. Prajadinata (makamnya di Mekah) – RH. Muh. Nur Tcakrapradja – RH. Nur Rohman Galim Tjakradinata – RH. Atong Tjakradinata.

Kegiatan nyangku biasanya berlangsung sehari-semalam. Pada malam hari menjelang nyangku, dilaksanakan acara muludan dan pengajian, yang dilanjutkan dengan membaca sholawatan diiringi tetabuhan gembyungan semalam suntuk di Bumi Alit. Adapun  Bumi Alit  adalah tempat penyimpanan benda-benda pusaka peninggalan leluhur Panjalu. Letak Bumi Alit tidak jauh dari Alun-alun Panjalu.

       Besoknya, benda-benda pusaka yang ada di Bumi Alit akan dibawa menuju Nusa Gede, Situ Lengkong Panjalu yang berjarak sekitar 600 meter dari Bumi Alit. Para tokoh sesepuh dan kawula muda membawa pusaka, menyeberangi Situ Lengkong, menuju Nusa Gede.

Di sana, rombongan melaksanakan acara tawasulan di area makam Dipati Hariang Kancana. Selepas itu, perjalanan dilanjutkan menuju Alun-alun Panjalu untuk melaksanakan ritual penyucian pusaka di menara bambu yang berdiri setinggi  dua meter. Sebelum dicuci, seluruh pusaka dibariskan di atas kasur khusus diatas panggung.

 Kemudian, balutan kainnya dibuka. Satu persatu benda-benda tersebut di diperkenalkan kepada pengunjung, sekaligus diceritakan pula riwayatnya disertai penjelasan bahwa benda-benda itu bukan untuk disembah, tetapi untuk dipelihara karena mengandung nilai sejarah. Selanjutnya, pusaka-pusaka utama yang terdiri dari Pedang, Kujang, dan Gentra (gong kecil) itu mulai dicuci di atas menara bambu oleh tokoh sesepuh dan kawula muda.

Momen inilah yang ditunggu-tunggu para penonton. Penyucian pusaka merupakan puncak sugesti. Pengaruhnya mampu membuat warga berdesak-desakan berebut air cucian yang jatuh dari atas menara. Baik untuk di bawa pulang atau dibasuhkan langsung ke wajah sebagai ekspresi dari keyakinan ngalap berekah.

Fenomena seperti ini memang selalu ada dan sulit untuk dihilangkan walau sudah dihimbau oleh para petugas bahwa air tersebut jangan dipergunakan untuk hal lain. Namun, sebagian warga tidak peduli. Kenyataan seperti itu tidak berbeda dengan Pelaksanaan Upacara Panjang Jimat di Cirebon dan Sekatenan di Yogyakarta, ketika air bekas mencuci pusaka selalu diperebutkan karena dianggap memiliki barokah tertentu.

Air yang digunakan untuk mencuci pusaka Panjalu terdiri dari sembilan mata air yang berasal dari Karantenan, Gunung Bitung, Citatah, Kubang Kelong, Cibatu Agung, Giyut Tengger, Cipanjalu, Cipanuusan, dan Situ Lengkong Panjalu.

Setelah  dicuci, dikeringkan dengan asap kemenyan, dan dikemas kembali (dibungkus). benda-benda pusaka itu disimpan kembali ke Bumi Alit. Hal  itu sekaligus menandai bahwa prosesi ritual nyangku telah berakhir.

           Terkait dengan tradisi Nyangku, untuk menunjang momen puncak itu,  di Panjalu juga biasa digelar Festival Budaya Nyangku yang dimulai pada dua minggu sebelum puncak acara.

Festival Budaya Nyangku biasanya ditengarai dengan hadirnya pasar malam dan bazar rakyat. Puluhan pedagang bersimbiosis dengan ombak banyu dan permainan rakyat lainnya, yang menjadi hiburan dan sajian menarik bagi masyarakat Panjalu, khususnya remaja dan anak-anak. Selain pasar malam, dalam festival ini biasa di selenggarakan pula berbagai kegiatan keagamaan, kesenian, dan olah raga.




Hikmah dibalik Perbedaan
            Cerita mengenai situ Lengkong Panjalu terdiri dari banyak versi.  Masyarakat Panjalu mempercayai sejarah Situ Lengkong berkaitan dengan perjalanan Prabu Boros Ngora,  pangeran dari kerajaan Panjalu, yang selalu haus dalam menuntut ilmu.

Ayahnya, Prabu Cakra Dewa memerintahkan Boros Ngora untuk mencari ilmu untuk kesejahteraan dan keselamatan rakyat Panjalu. Maka, Boros Ngora pun berkelana sambil menuntut ilmu ke Ujungkulon. Namun, ilmu yang dipelajari Boros Ngora adalah ilmu kadugalan (kekebalan). Ilmu sakti yang telah dimiliki Boros Ngora diantaranya adalah “Ras-Clok”. Ilmu tersebut dapat mengantarkan Boros Ngora kemanapun yang diinginkan dalam waktu sekejap. Meski ilmu yang Boros Ngora terbilang tinggi, tetapi Cakra Dewa tidak menyukainya, karena bukan ilmu kekebalan yang dapat diandalkan untuk mensejahterakan rakyat Panjalu.

Selanjutnya Cakra Dewa memerintahkan Boros Ngora untuk kembali berkelana. Cakra Dewa membekali putranya dengan sebuah gayung karancang, gayung yang bolong-bolong. Boros Ngora pun segera berangkat meninggalkan istana kerajaan Panjalu, dan sampailah ke negeri Mekah.

Diceritakan Boros Ngora bertemu dengan Sayidina Ali. Mulanya Boros Ngora meremehkan Sayidina Ali. Namun, ketika telah menyaksikan kesaktian Baginda Ali, barulah Boros Ngora mengakui ketangguhannya. Boros Ngora mendapat tantangan untuk mencabut tongkat yang ditancapkan Sayidina Ali. Dan ketika tongkat itu dicabut, Boros Ngora tidak mampu melakukannya.

Setelah itu, Boros Ngora berguru kepada Sayidina Ali. Boros Ngora tertarik untuk mempelajari dan mendalami agama Islam. Dan tentu saja Boros Ngora memeluk agama Islam dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. Ilmu-ilmu agama Islam diajarkan kepada Boros Ngora.

Setelah dipandang cukup oleh Sayidina Ali, maka Boros Ngora akhirnya diizinkan untuk kembali ke tanah Panjalu dan mensyi’arkan agama Islam. Baginda Ali membekali Boros Ngora dengan sebilah pedang dan segayung air zam-zam dalam gayung kerancang.

`           Boros Ngora menumpahkan air zamzam ke Legok Jambu. Tiba-tiba, segayung air zamzam di Legok Jambu berubah menjadi air bah yang mampu menggenangi seluruh Legok Jambu, yang selanjutnya menjadi sebuah danau bernama Situ Lengkong Panjalu. Danau tersebut mengelilingi sebuah pulau kecil bernama Nusa Gede. Di pulau kecil itulah kemudian Boros Ngora membangun istana kerajaan Panjalu, dan memindahkan pusat kerajaan ke Nusa Gede.

Namun beberapa orang ahli sejarah beranggapan bahwa pemilik nama Boros Ngora itu adalah Prabu Buni Sora Suradipati (Mungkin dikarenakan kemiripan nama). Hal itu ditolak oleh KH. Atong Cakradinata, dengan alasan Prabu Buni Sora Suradipati hidup pada abad ke-13, tatkala zaman kerajaan Sunda Galuh. Sedangkan Prabu Boros Ngora sempat berguru kepada Sayyidina Ali RA yang hidup pada abad ke-6.

Sebagaian ulama di Panjalu beranggapan bahwa pertemuan Prabu Boros Ngora dengan  Sayyidina Ali RA merupakan pertemuan secara hakikat, sebagaimana diketahui bahwa ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat nabi sangat dahsyat.

Dan yang lebih mengagetkan adalah  KH Abdurachman Wahid turut berpendapat mengenai sejarah Panjalu. Menurut Abdurachman Wahid, sebagaimana diliput oleh Jawa Pos, bahwa nama asli dari Kiai Panjalu adalah Sayyit Ali Bin Muhammad Bin Umar yang hidup pada massa kerajaan Padjadjaran ketika dipimpin oleh Prabu Siliwangi.

Dengan adanya silang pendapat seperti itu, tidak mengakibatkan adanya perpecahan di Panjalu. Justru kini Situ Lengkong Panjalu semakin dipadati oleh para peziarah yang datang dari berbagai pelosok tanah air. Para peziarah tidak terlalu mempermasalahkan silang pendapat mengenai sejarah Panjalu. Yang pasti, semua berkeyakinan bahwa tokoh yang dimakamkan di Situ Lengkong Panjalu adalah orang saleh, yang membaktikan hidupnya untuk kepentingan agama.***


0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post