Putri Anjung Sari - Puteri Keraton Padjadjaran Yang Mengungsi ke Panjalu




Ilustrasi, Vidia Iswari (Foto Istimewa)



Oleh DHIPA GALUH PURBA


Ini adalah sinopsis dari skenario film yang saya tulis. Skenarionya belum pernah digarap dan belum pernah ditawarkan kepada rumah produksi manapun.

Saya memposting disini hanya sebagai dokumentasi dan berharap ada seseorang yang memberikan masukan untuk memperkaya cerita Puteri Anjung Sari ini.

Saya menggunakan foto Vidia Iswari sebagai ilustrasi catatan ini, karena saat saya menulis cerita Puteri Anjung Sari... wajah yang saya bayangkan sebagai sosok Anjungsari adalah Vidia Iswari, seorang penari dari Bandung, sahabat seangkatan tahun 1998 di STSI Bandung.







Latar Belakang       
Dalam “Babad Panjalu” disebutkan bahwa  Anjungsari adalah salah seorang putri dari Keraton Pakuan Pajajaran yang mengungsi ke wilayah Kerajaan Panjalu ketika Pajajaran digempur oleh pasukan Cirebon dan Banten.

Bukti adanya arus pengungsi dari Pakuan Pajajaran ke Kawali dan Panjalu dicatat oleh pegawai pemerintah Belanda bernama J.Olivier.

Dari bulan Desember 1821 sampai tahun 1827, ia  mengadakan investigasi ke wilayah-wilayah Priangan untuk bahan laporan ke pemerintah pusat.

Hasil investigasi dicatat dalam bukunya yang berjudul Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie (Kejadian-kejadian dan hal-hal penting dari Hindia Timur)


Synopsis
Putri Anjungsari dikejar oleh tiga orang perampok di tengah hutan belantara. Ketiganya hampir berhasil menangkap Anjungsari, dan sangat bernapsu untuk memperkosanya.

Namun Anjungsari berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar suara auman harimau. Semuanya berlari ketakutan, tetapi tiga perampok masih terus berusaha mendapatkan Anjungsari.

Beruntung Anjungsari bisa selamat, karena tiga perampok terjerat oleh perangkap binatang yang dipasang oleh Aki Simpar.

Hal itu membuat Aki Simpar sangat kaget, seraya memohon maaf kepada tiga perampok. Aki Simpar akan melepaskan jeratannya, tetapi Anjungsari memohon agar tidak melepasnya.

Terjadi percakapan yang cukup alot antara Aki Simpar dan Anjungsari. Sebab, Aki Simpar tetap merasa bersalah.

Ia tidak memasang perangkap untuk menangkap manusia, melainkan untuk menangkap binatang buruan.

Anaknya Aki Simpar menceritakan bahwa anaknya yang bernama Candra sedang sakit keras, dan ia ingin makan daging harimau.

Ketika sedang berlangsung percakapan, tiba-tiba terdengar suara auman harimau. Semuanya kaget. Para perampok berteriak agar Aki Simpar segera melepas jeratannya.

Namun Anjungsari menarik tangan Aki Simpar, dan mengajaknya pergi meninggalkan hutan.

Sesampai di rumahnya, Nini Simpar terkejut melihat Aki Simpar datang bersama Anjungsari. Terlebih lagi Candra yang sedang sakit keras, tiba-tiba menjadi sembuh ketika melihat kecantikan Anjungsari.

Candra beretrimakasih kepada Aki Simpar yang mengiranya akan menikahkan dirinya dengan Anjungsari. Hal itu membuat Anjungsari kaget, karena ia tidak menyukai Candra.

Aki Simpar merupakan sosok yang bijak. Menyadari Anjungsari tidak menyukai anaknya, ia tidak memaksakan kehendak anaknya untuk menikah dengan Anjungsari.

Bahkan Aki Simpar menganggap Anjungsari sebagai anaknya, dan meminta agar Candra pun menganggap Anjungsari sebagai adiknya.

Candra sangat kecewa dengan keputusan Aki Simpar. Meski begitu, ia menerimanya sambil memikirkan cara licik untuk mendapatkan Anjungsari.

Dalam sebuah kesempatan, Candra berusaha memperkosa Anjungsari. Namun niatnya tidak tercapai, karena Maharaja Sakti menyelamatkannya.

Maharaja Sakti adalah Raja Kawali, yang sedang berkelana untuk mencari kekasihnya, yang tiada lain adalah Anjungsari.

Namun karena ia menyamar menjadi seorang pemuda desa, Anjungsari pun tidak mengenali Maharaja Sakti.

Selain itu, Maharaja Sakti pun tidak menceritakan siapa dirinya. Maharaja Sakti memendam semuanya, dan segera meninggalkan tempat tersebut.

Candra yang kalah dalam pertarungan melawan Maharaja Sakti akhirnya memilih untuk melarikan diri menuju ke Gunung Sawal.

Candra bertekad untuk menuntut kesaktian yang tinggi agar dapat membalaskan sakit hatinya, dan mendapatkan Anjungsari.

Nini Simpar sangat sedih atas kepergian putranya. Nini Simpar jatuh sakit. Pada suatu hari, ketika Aki Simpar dan Anjungsari mau makan, datanglah seorang pengemis tua.

Ia memohon untuk diberi makanan, karena sudah beberapa hari tidak makan. Anjungsari merelakan makanannya untuk pengemis itu.

Ketika Aki Simpar akan memberikan makanannya kepada Anjungsari, pengemis itu memintanya kembali.

Anjungsari pun merelakannya. Pengemis tua makan dengan lahap, menghabiskan jatah makanan Aki Simpar dan Anjungsari.

Setelah melahap makanan, pengemis tua mendekati Nini Simpar, dan mengusap wajah Nini Simpar. Saat itu juga, Nini Simpar sembuh seperti sedia kala. Dan sebelum meninggalkan rumah, pengemis tua pun memberikan buah semangka.

Ketika buah semangka dibelah, isinya adalah emas berlian yang berkilauan indah. Salahsatunya adalah cincin. Anjungsari memperhatikan cincin tersebut. Disana tertulis nama “Panji Boma”.

Esok harinya, Aki Simpar kedatangan tiga orang utusan raja yang datang hampir bersamaan. Mereka adalah utusan Maharaja Sakti (Raja Kawali), Panji Boma (Raja Dayeuhluhur), dan Arya Sahinas (Raja Banjar Kasumbar).

Tujuan ketiga utusan itu sama, yakni hendak melamar Anjungsari untuk menjadi permaisuri di kerajaannya.

Tentu saja Aki Simpar merasa bingung. Namun Anjungsari segera mendapatkan solusinya. Ia akan menerima lamaran bagi siapa saja yang besok hari datang lebih awal. Tetapi tidak boleh mewakilkan kepada siapapun, harus raja sendiri yang datang.

Maharaja Sakiti, Panji Boma, dan Arya Sahinas menerima tantangan tersebut. Mereka berangkat ke tanah Panjalu dengan mengandalkan kesaktiannya masing-masing.

Arya Sahinas menunggangi kuda tercepat di jagat, yang kecepatannya mencapai 10.000 KM/jam. Panji Boma menaiki ranting pohon kelapa, melesat terbang dengan kecepatan yang lebih dahsyat. Sementara Maharaja Sakti mengecilkan tubuhnya, untuk kemudian menyelip ke dalam ikat kepala Panji Boma.

Di tengah perjalanan, Panji Boma menyaksikan Arya Sahinas sedang berusaha membangunkan kudanya yang tergeletak kehausan.

Panji Boma turun, dan berusaha membantu Arya Sahinas. Dalam kesempatan itulah Maharaja Sakti keluar dari sela-sela ikat kepala Panji Boma, untuk kemudian berlari menuju rumah Aki Simpar.

Sementara Panji Boma membentangkan bajunya, yang kemudian mengeluarkan air. Air itu semakin besar dan membentuk situ, yang kemudian diberi nama Situ Ciater.

Kuda Arya Sahinas meminum air Situ Ciater, yang kemudian kondisinya pulih lagi. Arya Sahinas segera menaiki kuda, dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Aki Simpar. Panji Boma pun segera menyusul dengan terbang menaiki ranting pohon kelapa.

Sesampai di rumah Aki Simpar, Panji Boma dan Arya Sahinas merasa kaget, karena Maharaja Sakti telah lebih dulu sampai ke rumah Aki Simpar.

Arya Sahinas tidak menerima kekalahannya. Ia menantang Maharaja Sakti untuk bertarung. Maka Arya Sahinas dan Maharaja Sakti bertarung.

Pada saat itulah, Candra datang ke tempat tersebut. Candra sudah memiliki kesaktian yang tinggi. Candra merasuki tubuh Arya Sahinas, sehingga Arya Sahinas menjadi lebih unggul dari Maharaja Sakti.

Menyaksikan Maharaja Sakti yang hampir terbunuh, Panji Boma terketuk hatinya untuk menyelamatkan Maharaja Sakti, karena Maharaja Sakti adalah adiknya.

Akhirnya Panji Boma membantu Maharaja Sakti, dan Arya Sahinas kalah dalam pertarungan itu. Arya Sahinas melarikan diri, sementara Candra kembali menyelinap, bersembunyi di balik semak.

Panji Boma merelakan Anjungsari untuk dinikahi adiknya. Lalu mereka meninggalkan rumah Aki Simpar.

Di tengah perjalanan, Maharaja Sakti menceritakan perjalanannya yang bersembunyi di balik ikat kepala Panji Boma.

Tentu saja Panji Boma tersinggung. Akhirnya terjadi pertarungan sengit antara Maharaja Sakti dan Panji Boma.

Candra memilih untuk merasuk ke dalam tubuh Panji Boma, sehingga Panji Boma menjadi orang yang sangat kejam.

Panji Boma memotong kepala Maharaja Sakti. Pada saat itu, tubuh Maharaja Sakti menghilang.

Panji Boma bersedih atas apa yang dilakukannya. Ia membungkus kepala Maharaja Sakti, lalu meletakannya di sebuah tempat bernama Panaekan.

Kepala Maharaja Sakti membatu dan berubah menjadi patung (Kepala Maharaja Sakti berada di Keramat Panaekan, tetapi pada tahun 1980-an batu tersebut ada yang mencuri).

Panji Boma merasa bingung untuk menjelaskannya kepada Anjungsari. Namun, dengan kebesaran jiwanya, Panji Boma kembali ke rumah Aki Simpar, dan menjelaskan segala yang terjadi.

Mendengar hal itu, Anjungsari sangat sedih, dan langsung menuju ke dalam kamar. Aki Garahang pun kebingungan, meski Panji Boma sudah berkali-kali meminta maaf.

Ketika Panji Boma akan berpamitan, tiba-tiba Aki Garahang meminta agar Panji Boma menggantikan Maharaja Sakti, untuk menikahi Anjungsari.

Panji Boma langsung menerimanya, dan segera meninggalkan rumah Aki Simpar, untuk kemudian mempersiapkan diri di kerajaannya.

Rombongan Panji Boma berjalan menuju Panjalu. Ketika sampai di tempat terbunuhnya Maharaja Sakti, tiba-tiba semua rombongan berhenti.

Kuda tidak mampu berjalan. Bawaan pun menjadi berat, sehingga tidak ada yang bisa mengangkatnya.

Panji Boma pun berusaha mengangkat barang bawaan satu persatu, tetapi semuanya menjadi sangat berat. Kuda-kuda tergeletak, tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Panji Boma akhirnya meninggalkan rombongan, dan melanjutkan perjalanan sendirian ke rumah Aki Simpar.

Panji Boma menceritakan ikhwal rombongannya yang tidak mampu melanjutkan perjalanan ke Panjalu.

Aki Simpar kebingungan. Lalu Panji Boma menemui Anjungsari. Dan saat itulah Anjungsari menceritakan bahwa sebenarnya ia telah menjalin hubungan cinta dengan Maharaja Sakti semenjak ia masih berada di keraton Padjadjaran. Ia sengaja melarikan diri ke Panjalu, untuk mencari kekasihnya, Maharaja Sakti.

Mendengar hal itu. Panji Boma sangat kaget. Tanpa banyak bicara lagi, Panji Boma segera meninggalkan rumah Aki Simpar.

Ia menyesali perbuatannya. Seandainya tahu kalau Anjungsari sudah punya kekasih, ia pun tidak akan mencoba mendapatkan Anjungsari.

Kesempatan terbuka untuk Candra. Ia segera menampakan diri. Aki dan Nini Simpar sangat gembira melihat kedatangan putranya.

Candra langsung mengutarakan niatnya untuk menikahi Anjungsari. Sementara Anjungsari pun kali ini tidak menolak, tetapi dengan mengajukan satu syarat.

Yakni, Candra harus mengangkut barang bawaan Panji Boma yang tersimpan di tempat terbunuhnya Maharaja Sakti. Candra menyanggupinya, dan menganggap enteng.

Candra mendatangi tempat terbunuhnya Maharaja Sakti. Ia mencoba mengangkat barang bawaan Panji Boma satu persatu, tetapi tidak ada satu pun yang terangkat.

Bahkan, lama kelamaan, malah tubuh Candra yang amblas ke dalam tanah, untuk kemudian terkubur di tempat itu.

Panji Boma yang memperhatikan dari jauh, langsung menuju tempat tersebut. Ia berusaha menyelamatkan Candra, tetapi tidak mampu menahan tubuh Candra yang kian amblas ke dalam tanah.

Lalu, Panji Boma mengubur barang bawaannya, sehingga membentuk sebuah bukit. Di atas bukit itu, Panji Boma menyimpan batu besar sebagai pertanda di tempat itu tersimpan harta dari kerajaan Dayeuhluhur.

Akhir cerita, Anjungsari berdiri di atas batu tersebut dan melemparkan pandangannya ke arah yang sangat jauh. Ia melangkah menuju ka Cinaraas untuk bersemedi.***


0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post