Geger Panjalu (Bagian 1)


Sebuah Roman Cerita Rakyat Situ Lengkong Panjalu

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Geger Panjalu 

(1)





MALAM semakin kelam. Purnama diam diantara kesenyapan dan kebisuan. Hawa dingin merasuk sukma. Menyelimuti suasana yang semakin sepi. 

Istana kerajaan Soko Galuh yang terletak di lengkung Dayeuh Luhur, seakan sedang dilanda oleh belenggu sepi yang mencekam. 

Tak ada sama sekali suara detak langkah hilir mudik yang biasanya mewarnai kehangatan negeri Soko Galuh. 

Semua orang seakan  sengaja untuk berdiam diri di rumahnya masing-masing. Mengunci pintu rapat-rapat, bagaikan dihantui oleh rasa ketakutan yang luar biasa. 

Angin malam tak dapat lagi diajak bercanda. Bintang-bintang yang gemerlap menghiasi langit, tidak mampu membawa sebuah cerita romantis seperti malam-malam biasanya.

Seperti Permana Dewi, Sang Papayung Agung Soko Galuh. Dia tercenung dalam kesendiriannya.  Menarik napasnya dalam-dalam sambil melepaskan pandangannya, menembus jendela kamar kaputren Istana yang terbuka. Raut wajahnya melukiskan suatu kegelisahan luar biasa yang  nampaknya berkecamuk dalam jiwa.

"Oh, Hyang Agung, bagaimana jadinya Negeri ini, bila aku sendiri dalam keadaan seperti ini," bibirnya bergetar, sambil melepaskan pandangan matanya sejauh mungkin. Seakan ingin menerobos pekatnya malam, menembus kegelapan yang penuh dengan kehampaan. 

Ingatannya masih tertuju pada kejadian tadi siang. Tatkala di ruang pertemuan kerajaan sedang memperbincangkan masalah yang menghantui kerajaan Soko Galuh.

"Pun sapun Gusti Ratu, pasukan perampok  Samakkohkol telah sangat dekat dengan negeri ini!" begitu yang dikatakan Senopati, dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

"Kita harus berperang untuk menghadapinya!"dengan nada tinggi, Patih Bondan bersikeras untuk menyatakan perang, menunggu restu dari Permana Dewi.

"Rayi patih, sebaiknya kita harus mencegah terjadinya peperangan. Bagaimanapun juga,  yang akan  menjadi korban adalah rakyat negeri Soko Galuh." Permana Dewi tetap berkata dengan tenang dan penuh kewibawaan.

"Ampun Gusti Ratu, tapi pasukan perampok Samakkohkol sudah sangat dikenal keganasan dan kebuasannya. Jumlah mereka cukup banyak. Semuanya bersenjata  panah yang sangat mematikan. Artinya kita harus melawan daripada menyerahkan kekayaan negeri ini kepada mereka."

"Rayi Patih, sebenarnya siapa pemimpin perampok Samakkohkol itu?"

"Ampun Gusti Ratu, seluruh dunia persilatan telah mengenalnya, dia adalah Durgapati, yang memiliki kesaktian luar biasa,"

"Tapi aku tidak merasa gentar sedikit pun," begitu yang dikatakan oleh Permana Dewi. Membuat seluruh perangkat kerajaan tertegun dan saling pandang. 

Belum sempat menanyakan maksud perkataan ratunya, tiba-tiba dari arah pintu, muncul seorang prajurit dengan agak tergesa-gesa.

"Sampurasun, Gusti Ratu!" kata Prajurit tersebut sambil menghaturkan sembahnya kepada seluruh menak kerajaan.

"Rampes, masuklah. Katakan kabar apa yang membawamu sampai datang menghadap kemari!" Ratu Permana Dewi menyambutnya.

"Ampun Gusti Ratu, ada seorang utusan  dari pasukan Samakkohkol,"

"Apa?" hampir bersamaan, semuanya terkejut dan langsung berdiri.

"Benar Gusti, dan hamba mohon petunjuk selanjutnya."

"Suruh masuk!" tanpa berpikir panjang lagi, Permana Dewi memberikan perintahnya.

"Baik Gusti, hamba mohon diri untuk mengawalnya." Jawabnya sambil berdiri, lalu meninggalkan ruang kerajaan. 

Tidak lama kemudian prajurut tersebut masuk lagi diiringi oleh seorang laki-laki yang berperawakan tinggi besar dan kekar. 

Tercermin dari wajahnya suatu kebringasan yang amat menakutkan. Namun Permana Dewi tetap menghadapinya dengan penuh ketenangan. Kedua matanya begitu tajam menatap utusan itu .

"Katakan, apa yang diperintahkan pimpinanmu!"

"Aku diutus untuk memberikan walapatra ini, dan membawa balasannya sekarang juga,"jawabnya dengan nada yang kurang sopan.

"Bisakah kau berbicara dengan sedikit santun!" Patih Bondan berteriak sambil menghampiri utusan tersebut. 

Namun ketika tangan Patih mau menghantam utusan tersebut, Ratu Permana Dewi dengan cepat mencegahnya.

"Kendalikan emosi Rayi Patih. Aku mau mengetahui dulu isi walapatra yang dikirim Samakkohkol ini. Coba bacakan sendiri surat itu oleh sampean!" kata Permana Dewi sambil memberikan isarat kepada utusan Samakkohkol, untuk membacakan surat tersebut. 

Patih Bondan pun terpaksa harus menahan amarahnya dan kembali pada posisi semula. Dari pancaran matanya tersimpan amarah yang luar biasa.

Utusan itu  membuka surat yang dibawanya, kemudian membacanya dengan  keras. Suaranya menggema hampir memekikan telinga. bahkan istana kerajaan pun seperti berguncang dengan hebat. Menggambarkan suatu kesaktian yang dimilikinya.

"Wahai Ratu Permana Dewi yang maha ayu. Khusus untuk kerajaan Soko Galuh, Aku tidak meminta apa-apa. Hanya satu keinginanku, yaitu kau harus bersedia untuk menjadi pendampingku, sebab aku tertarik oleh kecantikanmu. Bila tidak setuju, maka aku akan segera memerintahkan anak buahku untuk meratakan Soko Galuh. Perlu kau ketahui, pasukanku sudah berada di Pasir Haur.  Hanya ada dua pilihan untukmu wahai bidadariku, bersedia dengan sukarela atau dipaksa, dan kita akan berbulan..." belum sempat utusan itu menyelesaikannya, tiba-tiba dengan gerakan kilat, Permana Dewi menyerangnya.

"Hiaaat.....!"

"Aaaaaaaakh...!" Utusan itu terpental sambil berteriak menahan rasa sakit. Permana Dewi sepertinya tak mampu mengendalikan emosinya lagi. 

Tatapan matanya yang sejuk, telah berganti menjadi suatu sinaran yang penuh kebencian.

"Katakan pada pimpinanmu. Besok pagi aku akan datang sendiri ke Pasir Haur. Bila mayatku sudah bisa kalian langkahi, barulah berbicara dengan sekehendak hati!" dengan amarah menggebu-gebu, Permana Dewi berkata. 

Utusan yang masih belum bisa berdiri itu bertambah gentar. Kemudian dengan terpincang-pincang, dia pun memaksakan diri untuk berlari meninggalkan istana kerajaan Soko Galuh. 

Kejadian itulah yang masih membayangi seluruh ingatan Ratu Permana Dewi. Betapa tidak, dirinya telah berjanji untuk datang sendiri dalam menghadapi beribu-ribu pasukan perampok Samakkohkol. 

Itu semua dilakukannya demi menyelamatkan Soko Galuh dari serangan para perampok yang selalu menimbulkan prahara.

Tanpa terasa. Detik-detik yang melaju, seakan menyekap jiwa Ratu Permana Dewi. Suara kokok ayam jantan sudah mulai terdengar. 

Sang surya pun telah memancarkan cahaya yang gemilang. Seluruh rakyat Soko Galuh telah terbangun dengan penuh ketegangan. Tentu saja, sebab berita tentang Permana Dewi yang akan berangkat sendiri ke Pasir Haur, telah tersiar ke seluruh peloksok negeri.

Permana Dewi sudah bersiap-siap untuk berangkat. Sejenak dia duduk bersila memohon doa kepada Hyang Agung, agar dirinya diberi keselamatan. Setelah itu, dengan langkah yang tidak diliputi keraguan, Permana Dewi membuka pintu istana kerajaan.

"Ampun Gusti Ratu, semoga Gusti mempertimbangkan lagi hal yang akan terjadi seandainya Gusti Ratu berangkat sendirian.." tiba-tiba Patih Bondan sudah berada di belakang Permana Dewi. Entah sejak kapan Maha Patiih memperhatikan gerak-gerik Ratu Permana Dewi.

"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Lebih baik tingkatkan saja keamanan dan kewaspadaan negeri ini, agar rakyat bisa merasa tentram dan damai," jawabnya dengan tenang.

"Itu telah hamba laksanakan Gusti Ratu. Namun apa kata dunia persilatan, jika Hamba membiarkan Gusti Ratu berangkat sendiri menghadapi Pasukan Samakkohkol. Apalah artinya Hamba sebagai patih di negeri ini?"

"Paman patih, jangan berbicara seperti itu. Paman patih adalah milik rakyat Soko Galuh, bukan milik seorang Permana Dewi. Sedangkan persoalan yang sedang terjadi ini, adalah persoalan seorang Permana Dewi dengan Pasukan Samakkohkol. Aku harap Paman Patih dapat mengerti dan memahaminya. Selamat tinggal." ucap Permana Dewi sambil menggerakan tubuhnya. 

Bagaikan pancaran sinar, Ratu Permana Dewi melesat begitu cepatnya. Sehingga Patih Bondan pun tak mampu untuk mengejarnya. Matanya pun hanya bisa mengikuti bayangan kepergian Permana Dewi. Semakin lama kian  samar, dan menghilang sama sekali dari pandangan Patih Bondan.

"Semoga Hyang Agung melindunginya..." gumam Patih Bondan sambil menengadahkan kepalanya ke arah atas. Terlihat raut wajahnya yang penuh dengan kekhawatiran.

(Bersambung)



0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post